INDEKS PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DAN TOLERANSI SISWA SMA/K DI GUNUNGKIDUL DAN KULONPROGO

Umi Muzayanah

Abstract


Abstrak

Kajian multikulturalisme menjadi menarik ketika dikaitkan dengan kenyataan bahwa dalam keragaman masyarakat Indonesia, kasus intoleransi masih marak terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Bahkan beberapa survey menunjukkan bahwa sikap intoleransi sudah meluas ke kalangan pelajar. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, penelitian ini bertujuan untuk mengukur indeks pendidikan multikultural dan toleransi siswa di SMA/K di Gunungkidul dan Kulonprogo Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks pendidikan multikultural di Gunungkidul mencapai 4,06 dan Kulonprogo mencapai 4,16, keduanya termasuk kategori “tinggi”. Sedangkan indeks toleransi siswa di Gunungkidul mencapai 3,57 dan Kulonprogo mencapai 3,72, dan keduanya termasuk kategori “tinggi”. Indeks Pendidikan multikultural dan indeks toleransi siswa di Gunungkidul dan Kulonprogo tidak memiliki  perbedaan signifikan. Dari hasil penelitian juga diperoleh data bahwa 7,87% siswa SMA/K di Gunungkidul dan Kulonprogo menyatakan “setuju” dan “sangat setuju” terhadap aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama.

Keywords


Pendidikan Multikultural, Toleransi, SMA/K, Gunungkidul, Kulonprogo

Full Text:

PDF

References


DAFTAR PUSTAKA

Adhyatma, Komang (2016): “Street Artist Yogyakarta Bereaksi Mengenai Jargon City of Tolerance”. Diakses tanggal 14 Oktober 2016 dari http://kanaltigapuluh.info/street-artist-yogyakarta-bereaksi-mengenai-jargon-city-of-tolerance/.

Al Arifin, Akhmad Hidayatullah (2012): “Implementasi Pendidikan Multikultural dalam Praksis Pendidikan di Indonesia”. Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi, 1 (1): 72-82.

Asshiddiqie, Jimly (2014): Toleransi dan Intoleransi Beragama di Indonesia Pasca Reformasi. Makalah disampaikan pada Dialog Kebangsaan tentang “Toleransi Beragama”, Ormas Gerakan Masyarakat Penerus Bung Karno, di Hotel Borobudur Jakarta, 13 Februari, 2014.

Baidhawy, Zakiyuddin (2005): Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural. Jakarta: Erlangga.

Badan Pusat Statistik. (2015): Daerah Istimewa Yogyakarta Dalam Angka 2015.

Fanani, Ahmad Fuad (2013): “Fenomena Radikalisme di Kalangan Kaum Muda”. MAARIF, 8 (1): 4-13.

Fidiyani, Rini (2013): “Kerukunan Umat Beragama di Indonesia: Belajar Keharmonisan dan Toleransi Umat Beragama di Desa Cikakak Kec. Wangon Kabupaten Banyumas”. Jurnal Dinamika Hukum, 13 (3): 468-482.

“FKUB Antisipasi Tindakan Intoleransi Umat Beragama di Kulonprogo”. 2015. Diakses tanggal 14 OKtober 2016 dari http://jogja.tribunnews.com/2015/11/25/fkub-antisipasi-tindakan-intoleransi-umat-beragama-di-kulonprogo.

Ibrahim, Rustam (2013): “Pendidikan Multikultural: Pengertian, Prinsip, dan Relevansinya dengan Tujuan Pendidikan Islam”. ADDIN, 7 (1): 129-154.

Kusuma, Wijaya (2014): “Slogan “Yogyakarta City of Tolerance” Dipertanyakan”. Diakses tanggal 14 Oktober 2016 dari http://regional.kompas.com/read/2014/01/31/0621376/Slogan.Yogyakarta.City.of.Toleran.Dipertanyakan.

Muzayanah, Umi (2016): Layanan Pendidikan Agama Bagi Siswa Minoritas pada SMA/K di Gunungkidul. Laporan Penelitian belum Dipublikasikan. Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang.

Prabowo, Danang (2011): “Yogyakarta Dikukuhkan sebagai Kota Toleran”. Diakses tanggal 14 Oktober 2016 dari http://news.okezone.com/read/2011/03/03/340/431098/yogyakarta-dikukuhkan-sebagai-kota-toleran.

Putra, Lutfi Mairizal (2017): “Catatan Komnas HAM, Kasus Intoleransi Meningkat Setiap Tahun”. Diakses tanggal 22 Juni 2017 dari http://nasional.kompas.com/read/2017/01/05/18280081/catatan.komnas.ham.kasus.intoleransi.meningkat.setiap.tahun.

Qodir, Zuly (2013): “Perspektif Sosiologis tentang Radikalisasi Agama Kaum Muda”. MAARIF, 8 (1): 45-66.

Rizal, Syaiful (2017): “Tantangan Lembaga Pendidikan dalam Menanggulangi Faham Radikalisme Agama”. Edudikara, 2 (1): 72-80.

Setyawan, Davit (2014): Implementasi Pendidikan Agama di Sekolah dan Solusinya. Diakses tanggal 9 Juni 2017 dari http://www.kpai.go.id/artikel/implementasi-pendidikan-agama-di-sekolah-dan-solusinya/.

Sudrajat, Ajat (Tt): Agama dan Masalah Kekerasan. Diakses tanggal 16 Desember 2016 dari staff.uny.ac.id/system/files/...Ag./Agama%20dan%20Masalah%20Kekerasan.pdf.

Syaifullah, Muh. (2016): “Yogyakarta Dinilai sebagai Kota Intoleran”. Diakses tanggal 14 Oktober 2016 dari https://m.tempo.co/read/news/2016/03/23/058756278/yogyakarta-dinilai-sebagai-kota-intoleran.

Takwin, Bagus dkk (2016): Studi tentang Toleransid dan Radikalisme di Indonesia Pembelajaran dari 4 Daerah Tasikmalaya, Jogjakarta, Bojonegoro, dan Kupang. International NGO Forum on Indonesian Development.

The Wahid Institue (2014): Laporan Tahunan Kebebasan Beragama/Berkeyakinan dan Intoleransi 2014. Jakarta: The Wahid Institute.

Wibowo, A.M. (2016): Indeks Pendidikan Multikultural di D.I. Yogyakarta. Laporan Penelitian belum dipublikasi. Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang.

Yaqin, M. Ainul (2007): Pendidikan Multikultural Cross-Cultural Understanding untuk Demokrasi dan Keadilan. Yogyakarta: Pilar Media.

Yasir, Muhammad (2014): “Makna Toleransi dalam Al-Quran”. Ushuluddin, XXII (2): 170-180.

Yustiani (2015): “Epilog Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural”. Dalam Pendidikan Multikultural di Pulau Dewata. Ed. Mulyani Mudis Taruna. Yogyakarta: Arti Bumi Intara.

Zamroni (2011): Pendidikan Demokrasi pada Masyarakat Multikultural. Yogyakarta: Gavin Kalam Utama.




DOI: http://dx.doi.org/10.32729/edukasi.v15i2.309

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


© Copyright CC-BY- SA.

 p-ISSN:1693-6418, e-ISSN: 2580-247X  

 Creative Commons License

Indexed by:

  Open Archives Initiative  Find in a library with WorldCat